Saturday, August 25, 2018
Cara Cerdas Membuat Kompos dari Sampah Daun-Daunan Berkualitas Tinggi
7:07 AM
Cara Membuat Kompos dari Sampah Daun -- Banyak sekali sampah daun-daunan berserakan di sekeliling tempat tinggal kita. Baik yang tinggal di pedesaan maupun di perkotaan, tidak terlepas dari sampah yang jatuh dari pepohonan itu. Jumlahnya pun tidak bisa dihitung dengan jari. Jika pintar “menyulapnya”, daun-daunan kering itu akan bernilai ekonomis dengan cara membuat pupuk kompos yang tinggi haranya. Bukankah?
![]() |
Untuk apa kompos?
Setelah sekian lama bergelut dengan pupuk kimia, kini, kompos sudah mulai dilirik kembali oleh para pembudidaya tanaman. Sebab, kompos sebagai pupuk organik memang terbukti keampuhannya dan memberi dampak positif terhadap tanah dalam jangka panjang.
Kompos berperan penting dalam membangun kesuburan tanah. Kompos tidak merusak struktur, tetapi mempertahankan dan memperbaiki yang rusak. Sebab, dengan memberikan pupuk organik ke dalam tanah, maka akan memberikan produktifitas tanah lebih baik. Dengan kata lain, pemberian pupuk organik seperti kompos, tentu akan memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologis tanah.
Bahan baku kompos
Bahan baku (raw material) yang digunakan untuk kompos sesuai dengan definisi kompos itu sendiri. Secara umum, kompos adalah bahan yang mengandung unsur hara (pupuk) yang berasal dari proses dekomposisi atau pembusukan sisa-sisa tanaman oleh mikroorganisme.
Apa sih bahan untuk membuat kompos? Jawabannya banyak sekali, seperti jerami, batang jagung, eceng gondok, kulit buah kopi, daun-daunan, bongkol pisang dan lain-lain. Semua itu adalah bahan organik dari tanaman. Bahkan, bahan kompos bisa divariasikan dengan bahan organik dari hewan, seperti kotoran ternak.
Setiap bahan untuk membuat kompos mengandung nilai atau rasio C/N berbeda-beda. Kita lihat salah satu bahan baku kompos, yaitu daun-daunan. Bahan ini mengandung nitrogen berkisar 0,4 – 1,0% dan rasion C/N 40 – 80.
Oleh karena itu, daun-daunan baik hijau maupun kering sangat berpotensi untuk dijadikan bahan kompos. Tinggal saja mengumpulin sampah daun-daunan yang berserakan setiap hari sehingga dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos. Ini berarti tidak hanya membersihkan sampah dedaunan, namun dari sampah itu dapat diubah menjadi barang bernilai ekonomis, yaitu kompos yang dapat dijadikan sebagai nutrisi tanah dan tanaman.
Oleh karena itu, daun-daunan baik hijau maupun kering sangat berpotensi untuk dijadikan bahan kompos. Tinggal saja mengumpulin sampah daun-daunan yang berserakan setiap hari sehingga dapat dimanfaatkan untuk membuat kompos. Ini berarti tidak hanya membersihkan sampah dedaunan, namun dari sampah itu dapat diubah menjadi barang bernilai ekonomis, yaitu kompos yang dapat dijadikan sebagai nutrisi tanah dan tanaman.
Faktor yang mempengaruhi proses pengomposan
Ada beberapa hal yang berpengaruh cepat tidaknya bahan-bahan kompos terdekomposisi atau terurai oleh mikroorganisme. Temperatur, ukuran bahan, mikroba, pH, kondisi apakah aerob atau anaerob, dan juga rasio bahan organik (C/N) merupakan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengomposan. Namun, dalam artikel ini, kita lihat dua faktor saja yang mempengaruhi proses pengomposan, yaitu C/N dan ukuran bahan baku.
C/N bahan dan kompos
Sering sekali kita mendengar rasio C/N, apa itu? C/N ini adalah perbandingan kadar karbon (C) terhadap nitrogen (N) dalam bahan organik. Ada yang nilai C/N sangat tinggi dan ada juga yang rendah. Yang tinggi C/N seperti serbuk gergaji sebesar 500.
Makanya serbuk gergaji yang berasal dari kayu sangat keras karena kandungan karbonnya yang tinggi. Dan yang rendah C/N seperti limbah cair hewan, yaitu 0,8.
Makanya serbuk gergaji yang berasal dari kayu sangat keras karena kandungan karbonnya yang tinggi. Dan yang rendah C/N seperti limbah cair hewan, yaitu 0,8.
Jika rasio C/N tinggi, sangat sukar dan lama diuraikan oleh mikroorganisme. Demikian sebaliknya, proses dekomposisi cepat selesai dan banyak N yang terbuang ke udara jika C/N rendah.
Berapa pun C/N bahan tersebut bukan persoalan bagi mikroorganisme, lambat laun akan terurai juga. Akan tetapi, yang lebih bagus C/N bahan baku yang mudah dan cepat terurai. Kalau pun digunakan bahan C/N tinggi, namun harus dicampur dengan bahan yang C/N rendah dan ukurannya kecil-kecil.
Berapa pun C/N bahan tersebut bukan persoalan bagi mikroorganisme, lambat laun akan terurai juga. Akan tetapi, yang lebih bagus C/N bahan baku yang mudah dan cepat terurai. Kalau pun digunakan bahan C/N tinggi, namun harus dicampur dengan bahan yang C/N rendah dan ukurannya kecil-kecil.
Tapi, yang menjadi persoalan dalam proses pengomposan adalah hasil pengomposan harus mengandung rasio C/N di bawah nilai 20 (<20) atau mendekati C/N tanah seperti standar pupuk kompos dalam SNI 2004.
Sebab, jika kompos yang nilai C/N lebih besar 20, maka akan merugikan tanaman ketika diaplikasikannya. Hal ini karena mikroorganisme akan bekerja lagi merombak bahan organik yang kita berikan ke dalam tanah. Mikroba akan mengambil hara yang tersedia di perakaran tanaman sebagai energinya untuk berkatifitas.
Sebab, jika kompos yang nilai C/N lebih besar 20, maka akan merugikan tanaman ketika diaplikasikannya. Hal ini karena mikroorganisme akan bekerja lagi merombak bahan organik yang kita berikan ke dalam tanah. Mikroba akan mengambil hara yang tersedia di perakaran tanaman sebagai energinya untuk berkatifitas.
Ukuran bahan
Jika membuat kompos, ukuran bahannya mesti kecil-kecil. Demikian dengan sampah daun-daunan, maka bahan-bahan harus diperkecil dengan cara memotong-motongnya. Sebab, jika ukuran bahan besar-besar, sukar dan lama terurai.
Tapi, jangan pula terlalu kecil bahannya karena akan membuat tumpukan bahan menjadi padat. Akibatnya, tidak ada ruang udara masuk dan terhalangnya pembuangan gas-gas seperti gas CO2 yang terbentuk selama pengomposan.
Tapi, jangan pula terlalu kecil bahannya karena akan membuat tumpukan bahan menjadi padat. Akibatnya, tidak ada ruang udara masuk dan terhalangnya pembuangan gas-gas seperti gas CO2 yang terbentuk selama pengomposan.
Dari beberapa literatur menyebutkan bahwa bahan baku ukurannya tidak boleh terlalu besar dan juga tidak kecil sekali. Bahan baku diperkecil sedemikian rupa sehingga berada dalam rentang ukuran 5 – 10 cm.
Ciri-ciri pupuk kompos Matang
Kalau daun-daunan dikomposkan menjadi pupuk, bagaimana ciri-ciri atau tanda-tanda bahwa pupuk kompos itu sudah matang? Secara fisik sangat mudah dilihat dan diraba, namun secara kimia sulit harus melalui uji laboratorium. Ini ciri-ciri fisik pupuk kompos yang sudah matang, yaitu :
- Sudah berwarna gelap kehitaman atau mirip dengan warna tanah
- Suhunya rendah mendekati suhu kamar
- Sudah tidak nampak lagi daun-daunan
- Tidak menimbulkan bau menyengat atau bau busuk sampah
- Tidak mengumpal
- Sudah ringan karena kadar air sudah rendah
- Kalau dipegang bentuknya remah
- Jika ditaruh ke dalam air tidak mudah larut dan bahkan awalnya mengapung
Kandungan hara kompos berdasar Standar kompos SNI
Kompos mengandung sejumlah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, seperti N, P, K, Ca, Mg, S dan sejumlah unsur mikro seperti besi (Fe) dan lainnya. Antara satu produksi kompos dengan produksi lain berbeda-beda kandungan unsur kimianya.
Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah pupuk kompos yang terbuat dari daun-daunan mengandung unsur hara yang tinggi, maka perlu diuji.
Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah pupuk kompos yang terbuat dari daun-daunan mengandung unsur hara yang tinggi, maka perlu diuji.
Tetapi, yang pasti, kompos yang kita buat sudah dapat dipergunakan untuk kebutuhan sendiri. Namun, jika ingin dikomersialkan atau dijual kepada petani, tentu harus memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh pemerintah. Begini standarnya :
| Gambar : Kreasi Pupuklahan.com |
Meningkatkan hara kompos
Seperti sudah disinggung di atas, kompos berbeda-beda komposisi unsur haranya, ada yang tinggi dan ada juga yang rendah. Apakah kompos yang kita buat dari daun-daunan rendah kadar haranya?
Tak perlu khawatir, ada cara untuk meningkatkan kualitas kompos agar sejajar dengan kualitas kompos komersial atau memenuhi standar SNI.
Tak perlu khawatir, ada cara untuk meningkatkan kualitas kompos agar sejajar dengan kualitas kompos komersial atau memenuhi standar SNI.
Baca juga ini :
- 6 Step Membuat Pupuk Organik Cair (POC) Air Kelapa dan Cara Aplikasinya yang Benar
- Membuat Pupuk Organik Cair Dari Sampah Basah Dengan EM4 dan Air Cucian Beras.
- Cara Membuat Pupuk Kompos Siap Pakai dalam 7 Hari
- Cara Membuat Pupuk Organik Cair Dari Sabut Kelapa
- Pupuk NPK Phonska Plus Memembuat Panen Meningkat Karena Ini
- Tepung darah yang terbuat dari darah hewan mengandung nitrogen (N) yang tinggi
- Tepung cangkang telur yang tinggi unsur kalsium (Ca)
- Eceng Gondok kaya dengan kalium
- Bonggol pisang juga banyak kandungan kaliummya
- Urine ternak juga terdapat kadar N dalam jumlah tinggi dibandingkan N dalam fecesnya
- Tepung tulang hewan kaya kandungan fosfor (P) dan unsur lainnya
- Abu dapur atau abu sekam mengandung unsur K yang tinggi dan juga unsur –unsur P, Mg, Ca, Fe dan lainnya
Cara Membuat Kompos dari Dedaunan
Baik, mari membuat kompos dari daun-daunan hijau maupun kering dengan dua cara, yaitu cara tradisional dan kekinian dengan EM4
Cara Tradisional (Cara I)
Alat
- Cangkul
Bahan :
- Daun-daunan secukupnya sesuai dengan jumlah yang ingin dibuat
Cara membuatnya :
- Gali lubang dengan menggunakan cangkul atau alat lainnya dengan kedalaman sesuai kebutuhan kompos yang akan dibuat.
- Taruh tanah galian di pinggir galian
- Masukkan sampah daun-daunan ke dalam lubang galian (boleh masukkan berapa banyak yang ada setiap hari sampai lubangnya penuh)
- Tutup dengan tanah diatas daun-daunan dengan ketebalan tanah secukupnya sampai seluruh daun tertutup
- Pada hari berikutnya, masukkan lagi daun-daunan dan tutup/timbun dengan tanah.
- Lakukan prosedur seperti diatas sampai lubang galian penuh dengan daun-daunan, jangan lupa tutup dengan tanah di atasnya.
- Biarkan timbunan daun-daunan itu sampai membusuk dan bercampur tanah. Pupuk kompos sudah matang dalam tempo 1,5 – 3 bulan
- Gali kompos yang sudah matang itu dan kemas dalam karung. Kompos tersebut bisa untuk digunakan langsung atau disimpan pada tempat yang tidak terkena hujan.
Cara Membuat Kompos Dedaunan dengan EM4 (Cara II)
Membuat kompos dengan melibatkan mikroba, prosesnya cepat. Dalam 1 – 2 minggu sudah matang komposnya. Yuk, membuatnya dengan persiapan seperti berikut ini :
Alat-alat :
- Alat-alat
- Sekrup
- Gembor
- Cangkul
- Ember
- Pengaduk kayu
- Karung beras bekas
Bahan – bahan :
- Daun-daunan (dicincang kecil) 80 kg
- Pupuk kandang 10 kg
- Sekam padi 5 kg
- Dedak padi 4 kg
- Abu dapur/abu sekam 1 kg
- Urin ternak 1 liter
- Cangkang telur (haluskan) 100 gram
- EM4 100 ml
- Gula pasir 50 gram
- Air secukupnya
Cara Pembuatan
- Buat terlebih dahulu campuran EM4 + Gula + Air. Campuran itu diaduk hingga merata
- Campurkan secara merata bahan-bahan ini, yaitu daun-daunan + sekam + dedak + Abu dapur/sekam + tepung cangkan telur + pupuk kandang.
- Siramkan larutan EM4 (telah dibuat pada poin no.1) secara merata dan perlahan-lahan ke bahan yang sudah dicampurkan (poin no.2). Aduk-aduk agar merata.
- Uji kadar air lebih kurang 30% dengan cara digenggam bahan campuran tersebut. Tandanya adalah jika digemggam tidak menetes air. Dan jika kepalan atau genggaman dibuka, bahan tersebut tidak lengket (bahan kembali mekar).
- Siramkan urin (air kencing ternak) di atas tumpukan bahan dan aduk sekali lagi
- Masukkan adonan atau campuran tersebut ke dalam karung dan tutup. Biarkan selama 15 hari dalam karung.
- Suhu atau temperatur bahan dalam karung dipertahankan antara 40 – 50 derajat Celcius. Jika suhu menjadi tinggi, karung dibuka beberapa saat dan jika perlu campuran dibalik-balik agar suhu cepat turun. Kemudian, karung diikat/tutup kembali. Kontrol secara rutin setiap hari sampai hari ke-15.
- Pupuk kompos dari daun-daunan sudah jadi pada hari ke-15 dan siap digunakan. Sebaiknya diangin-angin sebentar sebelum digunakan agar tidak terlalu panas atau sama dengan suhu kamar/ruangan.
Tuesday, August 21, 2018
Membuat Pupuk Kandang dengan Cara Konvensional dan Bioaktivator
4:03 AM
Membuat Pupuk Kandang -- Banyak yang belum tepat memahami mana yang dikatakan pupuk kandang, kotoran ternak, dan kompos. Bahkan, ada juga yang asal melihat kotoran ternak langsung saja menyebutnya pupuk kandang (pukan). Padahal, ketiga bahan tersebut jelas sangat berbeda baik dari bentuknya maupun kualitasnya. Perbedaan itu bisa jadi disebabkan oleh proses pembentukannya atau cara pembuatannya baik pupuk kandang maupun pupuk kompos
![]() |
Membedakan kotoran ternak, pupuk kandang, dan kompos
Kotoran ternak
Mari kita simak sekilas perbedaan arti pupuk dan kotoran ternak. Tujuannya agar lebih membekas dalam ingatan dan cerdas dalam melakukan pemupukan tanaman. Jangan sampai maksud baik hendak memberi nutrisi tanaman, yang terjadi justeru tanaman terganggu pertumbuhannya.
Kotoran ternak sering juga disebut pupuk kandang segar. Jadi, kotoran ternak merupakan hasil dari pencernaan makanan yang kemudian dikeluarkan dalam bentuk limbah padat (feces) dan cair (urine). Bahkan, ada limbah kotoran ternak bercampur dengan sekam padi, sebuk gergaji, atau jerami sebagai alas tidurnya (bedding).
Kotoran ternak masih tinggi bahan organiknya (C/N) sehingga tidak baik digunakan sebagai pupuk tanaman. Dalam kondisi tersebut, kotoran ternak belum terjadi proses penguraian dan sedikit sekali unsur hara (nutrients) yang dikandungnya.
Kotoran ternak masih tinggi bahan organiknya (C/N) sehingga tidak baik digunakan sebagai pupuk tanaman. Dalam kondisi tersebut, kotoran ternak belum terjadi proses penguraian dan sedikit sekali unsur hara (nutrients) yang dikandungnya.
Menurut Sutanto, R (2002) menyebutkan, "Penggunaan pupuk kandang segar secara langsung ke tanaman selalu tidak menguntungkan dan menimbulkan masalah karena kandungan gulma, organisme penyebab penyakit, dan senyawa toksik yang kemungkinan dikandung ekskresi. Penggunaan pupuk kandang segar kemungkinan besar timbul panas selama proses dekomposisi dan juga tanaman kekurangan unsur tertentu."
Pupuk kandang
Kalau begitu pupuk kandang yang bagaimana? Kita lihat definisinya terlebih dahulu. Pupuk kandang adalah bahan yang berasal dari kotoran ternak sudah mengalami dekomposisi/pembusukan dalam waktu relatif lama dan sudah mengandung sejumlah unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman apabila diaplikasikan ke lahan.
Dalam wikipedia.org disebutkan bahwa pupuk kandang ialah olahan kotoran hewan, biasanya ternak, yang diberikan pada lahan pertanian untuk memperbaiki kesuburan dan struktur tanah. Pupuk kandang adalah pupuk organik, sebagaimana kompos dan pupuk hijau.
Pupuk Kompos
Pupuk kompos, sering juga diucapkan orang dengan kompos saja, adalah salah satu pupuk organik. Jadi, kompos adalah bahan yang mengandung unsur hara dan bahan organik yang merupakan hasil penguraian/pembusukan sisa-sisa tanaman, hewan atau campuran keduanya oleh mikroorganisme pengurai pada kondisi tertentu.
Boleh jadi campuran sisa tanaman dan kotoran ternak disebut pupuk kompos. Dengan perkembangan teknologi, kompos dapat dipercepat prosesnya (pengomposan) dengan bantuan bioaktivator (mikroorganisme).
Boleh jadi campuran sisa tanaman dan kotoran ternak disebut pupuk kompos. Dengan perkembangan teknologi, kompos dapat dipercepat prosesnya (pengomposan) dengan bantuan bioaktivator (mikroorganisme).
Banyak sekali definisi dari kompos. Misalnya, Novizan (2007) menyebutkan bahwa kompos adalah hasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme pengurai.
Kalau demikian ceritanya, lalu bahan apa saja yang dapat dikomposkan? Bahan yang berasal dari berbagai sumber yang dapat dikomposkan, ialah :
- Limbah ternak dan manusia : Limbah padat dan cair, limbah rumah tangga, limbah pemotongan hewan, limbah peternakan ayam dan babi.
- Limbah pertananam, limbah kayu dan gulma air, limbah padi (jerami dan sekam padi), gulma air, kulit kacang tanah, dll.
- Pupuk hijau : legum, tanaman penutup tanah, rumput
- Sampah kota dan pemukiman : limbah padat, limbah cair, limbah biogas.
- Limbah agro-industri : sari kering, ampas tebu, bumbu masak (MSG), blotong, limbah pengolahan kayu dan kertas, serbuk gergaji, kelapa sawit.
- Limbah hasil laut : rumput laut, pakan ikan (Sutanto, R., 2002)
Dengan demikian, sudah jelas sekali bahwa kotoran ternak bukanlah pupuk kandang. Tetapi, pupuk kandang sudah pasti berasal dari kotoran ternak. Perbedaan nyata terdapat pada belum atau sudah diuraikan oleh mikroba. Kalau sudah terjadi penguraian, itulah pupuk kandang. Ini berarti sudah mengandung sejumlah unsur hara yang bermanfaat untuk tanaman. Kalau belum terurai dan masih segar, itulah kotoran ternak yang dapat mengganggu tanaman jika diberikan langsung.
Sementara kompos lebih kepada penekanan bahan bakunya (raw material) berupa sisa-sisa tanaman. Seperti ditulis oleh Sigit, P & Marsono (2005), “Istilah kompos lazim digunakan untuk pupuk organik yang berasal dari daun atau bagian tanaman lainnya.....”
Membuat Pupuk Kandang
Bagaimana cara membuat pupuk kandang? Secara umum, ada dua cara dalam membuat pupuk organik itu. Pertama, cara membuat pupuk kandang secara tradisional atau konvensional. Dan yang kedua, cara membuat pupuk kandang secara ala masa kini yang dikenal dengan pupuk kompos yang diproses dengan sentuhan mikroorganisme (bioaktivator). Baiklah, kini akan kita ulas satu persatu cara membuat pupuk kandang.
CARA MEMBUAT PUPUK KANDANG KONVENSIONAL
Pembuatan pupuk kandang secara konvensional adalah membuat pupuk kandang dengan proses yang sangat alami. Dengan kata lain, manusia tidak banyak terlibat di dalamnya. Hanya saja perlu mengumpulkan dan membuat tempat berlangsungnya proses penguraian.
Sejak dulu kala, petani kita sudah terbiasa melakukannya secara tradisional. Biasanya petani mengumpulkan kotoran ternak dalam lubang tanah atau gorong-gorong di dekat kandang. Sayangnya, kadang-kadang terkena hujan dan genangan air sehingga kualitas pupuk kandang rendah.
Tidak gampang untuk memperoleh pupuk kandang yang matang. Kenapa? Sebab, pupuk kandang yang murni dari kotoran ternak memerlukan waktu yang relatif lama untuk proses dekomposisi, minimal 90 hari (3 bulan). Namun, jika memiliki hewan ternak sendiri, minimal 1 ekor saja dan mau menunggu prosesnya, sudah merupakan modal untuk memperoleh pupuk kandang matang dari hasil olahan sendiri.
Yuk kita mulai membuat pupuk kandang. begini caranya :
Bahan
- Kotoran ternak (umumnya sapi)
1 ekor sapi bisa menghasilkan limbah berupa kotoran padat (feces) yang bercampur dengan air kencing (urine) kira-kira 10 – 15 kg per hari (tergantung berat ternak, umumnya 10% dari berat ternak). Ambil saja rata-rata kotoran ternak 12,5 kg/hari. Maka jika setiap hari dikumpulkan, hasilnya lumayan sebesar 4,1 ton kotoran sapi per tahun. Sudah cukup untuk lahan sendiri? Lebih bisa dijual, ‘kan?
Alat-alat
- Peralatan yang diperlukan seperti biasa sebagaimana peralatan untuk membersihkan kandang sapi, yaitu cangkul dan skop.
- Palu, papan dan paku untuk membuat wadah berupa kotak dengan ukuran tergantung jumlah pupuk yang akan dibuat. Jika membuat 1 ton, ukurannya lebih kurang 1 m x 1 m x 2 m.
Lokasi dan tempat :
- Lokasi membuat pupuk kandang di sekitar kandang ternak atau jauh dengan tempat tinggal agar tidak membawa dampak negatif dari bau kotoran ternak
- Tempatnya harus teduh atau ada naungan sehingga tidak terkena hujan ataupun sinar matahari langsung. Jika memungkinkan, sebaiknya dibuat atap dengan ukuran sesuai dengan jumlah pupuk yang akan dibuat.
| Ilustrasi Bak Olahan Kotoran Ternak. Gambar : Dokpri |
Langkah-langkah membuat pupuk kandang
- Buat terlebih dahulu kotak penampungan beserta tempat yang beratap. Dengan adanya atap, maka tidak dibasahi dengan hujan yang dapat menyebabkan tercucinya hara dalam pupuk kandang. Demikian juga dengan kotak, dinding harus dibuat rapat. Dasarnya dari kotak tidak perlu dialasi kayu, cukup beralaskan tanah saja.
- Kumpulkan kotoran ternak yang bercampur dengan urin dan alasnya (sekam atau jerami). Pengumpulannya bisa berasal dari ternak sendiri atau diperoleh dari orang lain sebanyak yang diinginkan, bisa 1 ton, 2 ton atau lebih.
- Masukkan kotoran ternak ke dalam kotak yang telah disiapkan
- Tutup dengan lapisan tanah di atasnya dengan ketebalan 20 – 30 cm
- Biarkan kotoran ternak itu membusuk/terurai secara alami selama 3 – 6 bulan. Setelah melewati waktu tersebut kotoran ternak sudah berubah menjadi pupuk kandang yang siap digunakan. Ciri-ciri pupuk kandang yang matang dapat dibaca pada artikel ini
Tip : Untuk memudahkan dalam aplikasi ke lahan, sebaiknya pupuk kandang dihaluskan terlebih dahulu sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
CARA MEMBUAT KOMPOS DENGAN AKTIVATOR STARDEC
Kotoran ternak yang dikomposkan dengan mikroorganisme pengurai atau bioaktivator dinamakan dengan kompos atau pupuk kompos. Sebab, dalam pembuatannya terdapat bahan sisa tanaman dan kotoran ternak dan dipercepat pengomposannya dengan mikroba. Dalam waktu kurang lebih 1 bulan, pupuk kompos siap digunakan. Ada beberapa aktivator dari mikroba, yaitu EM4, Orgadec, Stardec, dan lainnya.
Okay, bagaimana cara membuat pupuk kompos dengan Stardec? Begini, mengutip tulisan Simamora, S & Salundik (2006) menjelaskan bahwa pembuatan kompos menggunakan Stardec membutuhkan empat bak penampungan yang setiap bak bisa menampung bahan baku kompos sebanyak 1.000 kg atau 1 ton. Buat naungan dengan ketinggian 2 meter dari lantai agar semua bak terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Bahan kompos dibalik seminggu sekali dengan cara memindahkannya ke bak berikutnya. Bak yang pertama langsung diisi kembali dengan bahan yang dikomposkan, begitu seterusnya. Secara lengkapnya, membuat kompos dengan aktivator Stardec sebagai berikut :
Bahan :
- Kotoran ternak 1.000 kg
- Stardec 2,5 kg (0,25% dari bahan). Bisa dibeli di toko pertanian atau toko-toko online
- Abu gosok 100 kg (10%)
- Kalsit 20 kg (Kapur pertanian 2%)
Teknik Pembuatan
- Campurkan kotoran ternak dengan Stardec, aduk rata, lalu masukkan ke dalam bak pertama. Diamkan bahan campuran tersebut selama satu minggu
- Balik bahan kompos dengan cara memindahkannya ke bak kedua (bagian atas jadi ada di bawah) sambil dicampur dengan abu organik dan kalsit, diamkan selama satu minggu. Bak pertama yang sudah kosong diisi dengan bahan kompos yang baru.
- Satu minggu kemudian, balik kompos yang ada di bak kedua dengan cara memindahkan ke bak ketiga. Bak kedua diisi dengan kompos bak pertama. Diamkan lagi selama 1 minggu.
- Setelah didiamkan 1 minggu, kompos yang ada di bak ketiga dibalik dengan cara memindahkan ke bak keempat. Bak ketiga diisi dengan kompos bak kedua dan diamkan selama 1 minggu lagi
- Setelah 1 minggu didiamkan dalam bak keempat, maka kompos yang ada dalam bak keempat sudah terdekomposisi sempurna (kompos sudah matang) dan siap digunakan.
- Kompos yang sudah matang bisa dihaluskan, lalu diayak dan dikemas.
Jadi, dengan teknik ini, kompos sudah jadi dalam waktu 4 minggu atau 1 bulan. Jika ingin memproduksi kompos secara terus-menerus atau secara kontinyu, prosesnya sama, yaitu balikkan kompos ini setiap minggu dengan cara memindahkannya ke bak penampungan berikutnya sampai akhirnya kompos ini matang setelah tiga minggu atau tepatnya pada minggu keempat.
Intinya dalam proses yang kontinyu, Bak I yang sudah kosong langsung diisi kembali dengan kotoran ternak. Kompos yang sudah matang dalam bak IV segera dihaluskan, diayak dan dikemas. Demikian seterusnya. Untuk ilustrasi dapat dilihat pada Gambar di atas.
Baca juga ini :
- 6 Step Membuat Pupuk Organik Cair (POC) Air Kelapa dan Cara Aplikasinya yang Benar
- Membuat Pupuk Organik Cair Dari Sampah Basah Dengan EM4 dan Air Cucian Beras.
- Cara Membuat Pupuk Kompos Siap Pakai dalam 7 Hari
- Cara Membuat Pupuk Organik Cair Dari Sabut Kelapa
- Pupuk NPK Phonska Plus Memembuat Panen Meningkat Karena Ini
Bagaimana mudah, bukan? Itulah secuil informasi tentang cara membuat pupuk kandang secara konvensional dan menggunakan bioaktivator. Oh ya, mau tau ciri pupuk kompos yang sudah matang dapat dibaca pada artikel ini. Demikian, Semoga bermanfaat dan sukses selalu setiap gerak langkah dalam menggapai impian di masa yang akan datang yang cemerlang.
Sunday, August 19, 2018
Mau Hasil Bawang Merah Melimpah? Inilah Jenis dan Pupuknya yang Tepat
1:16 AM
Cara Memupuk Bawang Merah -- Untuk meningkatkan produksi bawang merah, maka jenis dan dosis pupuk harus tepat. Karena itu, jangan memupuk bawang merah mirip dengan komoditas hortikultura lainnya. Sebab, bawang merah yang dipanen adalah umbinya, bukan daun atau buah. Di samping itu, karena umur bawang merah yang sangat pendek +/- 60 hari, maka pemberian pupuk jangan sampai berlebihan atau kekurangan.
![]() |
Artikel ini secara khusus membahas tentang pemupukan bawang merah. Sedangkan bagian-bagian budidaya lainnya, seperti pembibitan, pengolahan lahan, pemeliharaan, pengendalian hama penyakit, panen dan pasca panen akan kita kupas pada artikel lainnya.
Agar memperoleh hasil bawang merah yang melimpah, katakanlah 1 : 10 atau 12 ton/hektar, maka waktu, jenis, dosis dan cara aplikasi merupakan kunci dalam pemupukannya. Misalnya, akan menjadi sia-sia atau nihil hasilnya atau kualitasnya ketika waktu pemberian pupuk tidak berbarengan dengan tingkat kebutuhan atau pertumbuhan tanaman bawang merah.
Demikian juga dengan jenis dan dosisnya. P dan K harus lebih cepat diaplikasikan ke lahan. Sebab, pupuk yang mengandung unsur hara P dan K memerlukan waktu minimal 1 minggu untuk kelarutannya dalam tanah sebelum dapat diambil oleh akar tanaman.
Bawang merah diperlukan pemupukan secara bertahap. Ada tiga tahapan pemupukan, yaitu pemupukan sebelum tanam sebagai pupuk dasar (ketika pengolahan tanah), pemupukan susulan I dan Susulan II. Setiap tahapan, dosis dan jenis pupuk berbeda-beda.
PUPUK DASAR
Asumsi bahwa tanah yang digunakan untuk menanam bawang merah cukup baik kondisinya terutama tingkat keasaman tanah (pH), berada dalam range 5,6 – 6,5 . Oleh karena itu, lahan tidak memerlukan pengapuran dengan dolomit atau kapur tanah.
Pupuk dasar yang diberikan sebelum tanam hanya dua, yaitu pupuk organik dan anorganik. Mari kita lihat satu per satu.
Pupuk organik
Untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah, maka perlu diberikan pupuk organik berupa pupuk kandang atau kompos sebagai pupuk dasar. Dengan memberikan pupuk organik akan membuat struktur tanah gembur, poros, aeratif, dan memiliki daya retensi air yang baik.
Bahkan, dari sisi efisiensi pemupukan, penambahan pupuk oganik tidak hanya memperbaiki kondisi tanah, namun juga memberikan sejumlah unsur hara makro dan mikro walau jumlahnya sedikit.
Setiap pupuk organik kadar haranya berbeda-beda. Kalau pupuk kandang tergantung pada jenis pakan ternak, usia, alas kandang, dan lainnya. Demikian juga dengan pupuk kompos, kadar haranya dipengaruhi oleh komposisi bahan baku yang digunakan untuk pengomposan.
Bahkan, dari sisi efisiensi pemupukan, penambahan pupuk oganik tidak hanya memperbaiki kondisi tanah, namun juga memberikan sejumlah unsur hara makro dan mikro walau jumlahnya sedikit.
Dari sisi unsur hara, pemberian pupuk organik dapat mengurangi pemakaian pupuk kimia. Memang jumlahnya/persentasenya kecil. Tetapi, jika pupuk organik diberikan dalam jumlah banyak (ton), maka kemungkinan besar tidak perlu memberikan pupuk kimia lagi. Sebagai gambaran dapat dilihat pada Tabel berikut ini mengenai persentase pupuk kandang dan kompos, yaitu :
| Sumber : Nan Djuarni, Kristian, dan Budi (2005) dalam Simamora, S. & Salundik (2006) |
Setiap pupuk organik kadar haranya berbeda-beda. Kalau pupuk kandang tergantung pada jenis pakan ternak, usia, alas kandang, dan lainnya. Demikian juga dengan pupuk kompos, kadar haranya dipengaruhi oleh komposisi bahan baku yang digunakan untuk pengomposan.
Berapa Kg N, P, dan K dalam 1 ton Pupuk kandang dan kompos?
Baik, kita coba gunakan persetase unsur hara N,P dan K pada Tabel di atas untuk menghitung berapa sebenarnya berat hara dalam pupuk kandang sapi dan kompos. Lalu, berapa pula kesetaraannya dengan pupuk kimia? Hasilnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini :Dalam 1 ton pupuk kandang sapi, setara dengan 6,7 kg pupuk urea, Bayangkan kalau 10 ton pupuk kandang sapi, maka akan setara dengan 66,7 kg urea, 55,6 kg SP-36 dan 50 kg KCl. Bagaimana dengan kompos? 1 ton kompos setara dengan 63,3 kg pupuk ZA. Sungguh luar biasa kandungan haranya.
Kembali ke pupuk bawang merah, kebutuhan pupuk organik untuk pupuk dasar bawang merah tergantung jenis yang digunakan. Kalau menggunakan pupuk kandang sapi, maka kebutuhannya adalah 10 - 15 ton/hektar atau 1 – 1,5 ton setiap luas lahan 1000 m2.
Mengacu pada tabel di atas, ini setara dengan memberikan 30-45 kg N, 20-30 kg P dan 30-45 kg K pada lahan tanam bawang merah. Atau jika dalam bentuk pupuk buatan setara dengan 66,7 - 100 kg Urea, 55,6 - 83,3 kg SP-36, dan 50 - 75 kg KCl.
Kembali ke pupuk bawang merah, kebutuhan pupuk organik untuk pupuk dasar bawang merah tergantung jenis yang digunakan. Kalau menggunakan pupuk kandang sapi, maka kebutuhannya adalah 10 - 15 ton/hektar atau 1 – 1,5 ton setiap luas lahan 1000 m2.
Mengacu pada tabel di atas, ini setara dengan memberikan 30-45 kg N, 20-30 kg P dan 30-45 kg K pada lahan tanam bawang merah. Atau jika dalam bentuk pupuk buatan setara dengan 66,7 - 100 kg Urea, 55,6 - 83,3 kg SP-36, dan 50 - 75 kg KCl.
Dan apabila memakai pupuk kompos, kebutuhannya adalah 2-5 ton per hektar. Catatan: pupuk organik yang diberikan dalam jumlah optimal lebih bagus untuk produktifitas tanah, namun pertimbangkan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.
Kapan diberikan pupuk organik? Waktu yang paling tepat untuk menebar pupuk organik adalah sebelum tanam, yaitu 15-30 hari sebelum tanam. Tepatnya, dalam masa pengolahan tanah, sebaiknya pupuk organik sudah diberikan.
Pupuk anorganik
Pupuk anorganik yang diberikan sebagai pupuk dasar adalah pupuk yang mengandung unsur hara tinggi. Karena kandungan hara makro dalam pupuk organik masih kurang, maka perlu diberikan pupuk kimia untuk menambah unsur hara. Unsur hara yang diperlukan 80 kg N, 100-120 kg P dan 100 – 120 kg K.
Untuk memenuhi unsur-unsur tersebut, maka pupuk yang dimaksud adalah NPK, SP-36 dan KCL. Berapa dosisnya? Untuk NPK 16:16:16 sebanyak 500 Kg/Hektar, SP-36sebanyak 100 Kg/hektar dan KCLsebanyak 60 kg/hektar. Tapi ingat, jika sudah memberikan pupuk organik, maka NPK mesti dikurangi biar hemat, cukup 250 kg/hektar.
Kenapa harus diberikan lagi dengan pupuk SP-36 dan KCL, bukankah sudah diberikan NPK?? Benar sekali. Pertama, kombinasi pupuk majemuk dan tunggal lebih baik karena ada unsur-unsur lain yang dikandungnya tiap pupuk dan saling melengkapi.
Kedua, karena nitrogen diberikan secara bertahap, maka jika diberikan NPK 16:16:16 saja dalam jumlah banyak menyebabkan banyak kehilangan N. Ketiga, jika tidak ditambah dengan SP-36 dan KCL pada dosis NPK rendah, maka akan kekurangan unsur P dan K yang sangat berperan dalam pertumbuhan dan pembentukan umbi bawang merah.
Kedua, karena nitrogen diberikan secara bertahap, maka jika diberikan NPK 16:16:16 saja dalam jumlah banyak menyebabkan banyak kehilangan N. Ketiga, jika tidak ditambah dengan SP-36 dan KCL pada dosis NPK rendah, maka akan kekurangan unsur P dan K yang sangat berperan dalam pertumbuhan dan pembentukan umbi bawang merah.
Kapan diberikan? Pupuk anorganik tersebut minimal 7 hari sebelum tanam sudah harus diaplikasikan ke lahan. Sebab, pupuk yang mengandung P dan K butuh waktu untuk larut. Dengan demikian, pada saat akar bawang merah sudah mulai keluar, unsur hara yang dibutuhkan sudah siap untuk diserapnya.
Cara aplikasinya tidak terlalu sukar, cukup dengan disebar saja. Sebarkan pupuk tersebut ke atas bedengan yang sudah dipersiapkan. Lalu campurkan atau aduk dengan tanah secara merata.
PUPUK SUSULAN I
Memasuki umur +/- 2 minggu setelah tanam (10-15 hari HST), bawang merah sudah harus dipupuk lagi sebagai pupuk susulan I. Untuk memacu pertumbuhan vegetatif bawang merah, pada tahap ini tidak lagi pupuk yang mengandung P dan K. Pupuk yang diberikan adalah pupuk yang mengandung nitrogen (N).
Pupuk apa yang diberikan pada susulan I ini? Berikan pupuk urea atau ZA (zwavelzure ammoniak). Jika memilih pupuk urea, maka tidak perlu lagi diberikan pupuk ZA karena keduanya sama-sama mengandung nitrogen. Dosisnya : 400 kg pupuk ZA per hektar atau 40 gram ZA per m2. Jika tidak mau menggunakan ZA, maka gunakan urea dengan dosis 180 kg urea per hektar atau 18 gram urea per m2.
Sebaiknya pupuk apa, urea apa ZA pada susulan I ? Keduanya sebenarnya baik. Pemberian ZA lebih dianjurkan karena pupuk ZA disamping mengandung nitrogen, juga mengandung unsur hara S (24% S dalam ZA) yang merupakan unsur hara makro yang diperlukan untuk pertumbuhan bawang merah, akar, batang dan daun. Namun, kekurangannya adalah persentase N yang rendah (21% N) sehingga harus diaplikasikan dalam jumlah banyak.
Cara pemberiannya pilihlah yang tidak mengundang resiko. Maksudnya begini, kalau pupuk susulan seperti urea atau ZA diberikan dengan cara disebar, maka resikonya adalah mudahnya penguapan/hilang unsur N dalam bentuk amoniak ke udara dan juga menimbulkan efek pada daun bawang merah, yaitu terbakar daun kalau tidak segera disiram setelah pemupukan.
Pemberian pupuk urea atau ZA dengan cara ditempakan dalam larikan. Buat larikan sedalam 5 cm diantara barisan bawang merah, lalu tempatkan pupuk. Setelah pupuk diberikan dalam larikan, tutup segera untuk menghindari penguapan. Tugas yang terakhir adalah penyiraman agar pupuk segera larut dan dapat diserap tanaman bawang merah.
PUPUK SUSULAN III
Pemupukan masih harus diberikan pada umur tanaman 25-35 hari setelah tanam (HST). Pada tahapan ini bawang merah membentuk umbi. Oleh karena itu, unsur nitrogen sangat diperlukan dalam proses fotosintesis dan pembentukan karbohidrat.
Baca juga ini :
- 6 Step Membuat Pupuk Organik Cair (POC) Air Kelapa dan Cara Aplikasinya yang Benar
- Membuat Pupuk Organik Cair Dari Sampah Basah Dengan EM4 dan Air Cucian Beras.
- Cara Membuat Pupuk Kompos Siap Pakai dalam 7 Hari
- Cara Membuat Pupuk Organik Cair Dari Sabut Kelapa
- Pupuk NPK Phonska Plus Memembuat Panen Meningkat Karena Ini
Kebutuhan N pada pemupukan susulan kedua sebanyak 80-85 kg/hektar. Berikan pupuk urea sebanyak 175 – 180 Kg/hektar dengan cara ditempatkan dalam larikan, namun hati-hati karena pada tahapan ini bawang merah sudah mulai terbentuk umbinya. Dan jangan lupa untuk penyiraman setelah dilakukan pemupukan.
| Pupuk dan pemupukan bawang merah. Gambar : Dokpri |
Usai sudah ulasan tentang pupuk dan pemupukan bawang merah. Semoga informasi yang Sobat baca menjadi bermanfaat, terutama sebagai tambahan pengetahuan dalam budidaya bawang merah. Selamat beraktifitas dan diiringi do’a sukses selalu, amiin.
Subscribe to:
Posts (Atom)


