Saturday, October 6, 2018

4 Hal Penting Dalam Memupuk Tanaman Yang Tidak Boleh Diabaikan

11:07 PM

Cara Memupuk Tanaman -- Pemupukan tanaman memang diperlukan untuk mencukupi nutrisi agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun, pada kenyataannya keyword “mencukupi” unsur hara sering diabaikan. Lihatlah, setiap kali menanam tidak terlepas dari kegiatan memupuk, tidak peduli apakah unsur hara yang tersedia di dalam tanah mencukupi atau kekurangan. Yang penting tanaman harus dipupuk. Padahal, cara memupuk yang sudah mentradisi seperti itu kurang tepat alias belum benar dalam usaha memberi nutrisi kepada tanaman.

4 Hal Penting Dalam Memupuk Tanaman Yang Tidak Boleh Diabaikan


Ada kebiasaan begitu mendengar ada produk pupuk baru yang mampu meningkatkan produksi komoditas tertentu, langsung saja membeli dan memupuk tanaman. Padahal, baru saja beberapa minggu memberikan pupuk tanaman. Namun, karena tidak memperhatikan “kemauan” tanaman, kebiasaan seperti itu terus saja ada dan terulang dalam setiap musim tanam. Bahkan, belum manjur pupuk akar, “dipaksakan” tanaman dengan pupuk daun.

Perlu diingat bahwa tanaman akan terganggu pertumbuhannya jika jumlah pupuk dalam keadaan berlebihan atau kekurangan. Tanaman membutuhkan nutrisi dalam jumlah yang seimbang atau cukup untuk keberlangsungan kehidupannya secara produktif.

Pemupukan tanaman yang benar akan membawa dampak positif terutama bagi tanaman itu sendiri. Tanaman yang dipupuk dengan benar akan tumbuh dengan normal, produksi, dan produktivitas pun tinggi. Di samping itu, dengan pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman akan menjaga kelestarian lahan, lingkungan,  dan sumberdaya air.

Dampak Negatif dari Kesalahan Memupuk
  • Batang tanaman rusak
  • Tanaman tidak produktif
  • Bunga dan buah rontok
  • Tanaman layu dan mati
  • Tanah keras
  • Air tanah tercemar
  • Tanah menjadi asam atau basa
  • Kesehatan manusia terganggu
  • Rugi secara ekonomi, pikiran, energi, dan waktu

4 Hal Penting dalam Memupuk Tanaman
Tindakan penting dalam pemupukan adalah memberikan pupuk yang tepat dan sesuai dengan kesuburan tanah. Ketika sifat fisika, kimia, dan biologi tanah sudah diketahui sebelum menanam, maka tidak akan membuat kita bingung dalam menentukan jenis dan banyaknya kebutuhan pupuk. Oleh karena itu, evaluasi kesuburan tanah sebelum pengolahan lahan atau sebelum memasuki masa tanam merupakan langkah cerdas dalam pengelolaan lahan.

Ada 4 hal penting dalam memupuk tanaman supaya produksi dan produktivitas tinggi serta memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Hal-hal tersebut adalah jenis pupuk, waktu pemupukan, dosis pupuk, dan teknik aplikasinya.

Jenis pupuk
Jenis pupuk apa yang perlu diaplikasikan? Aplikasikan jenis pupuk yang tepat sesuai dengan hasil evaluasi kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman. Misalnya, struktur tanah keras, maka perlu penambahan pupuk organik untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Mungkin juga perlu penambahan unsur hara makro N, P dan K, maka pupuk yang diaplikasikan pupuk yang mengandung unsur-unsur tersebut, bisa pupuk kimia tunggal atau majemuk dan bisa juga pupuk organik. Demikian juga dengan kebutuhan unsur-unsur hara lainnya.

Kadang-kadang masih ada juga yang bingung dengan kehadiran begitu banyak jenis pupuk terutama pupuk kimia. Padahal, yang namanya pupuk pasti ada kandungan unsur hara di dalamnya. Nama boleh berbeda, tapi lihatlah kandungannya dan mungkin kandungan unsur haranya sama.

Baca Juga :

Hal ini senada seperti diungkapkan oleh Novizan (2007) dalam karyanya Petunjuk Pemupukan bahwa pepatah lama mengatakan “Mawar dengan berbagai sebutan tetaplah mawar.” Begitu juga dengan pupuk, dalam berbagai macam merek dan sebutan, kandungannya tetap unsur hara makro dan mikro. Meskipun jumlah dan jenis pupuk bermacam-macam, tidak akan membuat bingung jika bahan pembentuknya diketahui.

Waktu pemupukan
Pupuk adalah makanan untuk tanaman. Oleh karena itu, “jadwal makan” tanaman harus teratur. Buatlah jadwal pemupukan tertulis agar mudah diingat atau dilihat. Tanaman yang secara terus-menerus atau terlalu sering dipupuk, membuat tanaman stres atau terganggu. Waktu pemupukan juga disesuaikan dengan fase pertumbuhannya,  baik pada fase vegetatif maupun fase generatif.

Pupuk yang diaplikasikan tidak serta merta tersedia untuk tanaman. Ada jenis pupuk yang butuh waktu larut dan baru tersedia untuk tanaman dalam waktu +/- 7 hari. Dan ada juga pupuk yang cepat tersedia dan cepat diserap oleh tanaman.

Bahkan, waktu pemupukan tergantung juga pada cuaca dan suhu udara. Musim hujan dan kemarau berbeda dalam hal dosis yang diberikan. Demikian juga dengan suhu udara, aplikasi pupuk pada pagi hari atau sore hari, seperti pada aplikasi pupuk daun. Jika diaplikasikan pada waktu yang tidak tepat, maka tidak ada pengaruh bagi pertumbuhan tanaman atau justeru yang terjadi mungkin terganggunya tanaman.

Dosis Pemupukan
Over dosis dalam pemupukan merupakan tindakan yang merugikan tanaman dan juga lingkungan. Khusus untuk tanaman, dosisnya harus tepat sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dosisnya juga tergantung pada ketersediaan unsur hara di dalam tanah.

Oleh karena itu, dalam setiap pemupukan, ikutilah petunjuk dari ahlinya atau baca dengan teliti petunjuk yang tertera pada label pupuk.

Teknik memupuk
Teknik atau cara aplikasi pupuk yang tidak tepat, juga berakibat fatal dalam budidaya tanaman. Tempatkan pupuk sesuai dengan kondisi masing-masing,  seperti cara tugal, pengocoran, fertigasi, penempatan dalam larikan, disekeliling tanaman, tebar, atau mungkin melalui penyemprotan seperti aplikasi pupuk daun. Dengan teknik aplikasi yang benar maka penyerapan pupuk oleh tanaman lebih optimal. Namun, jika salah tekniknya, tanaman “lapar” dan energi kita pun terkuras.

Friday, October 5, 2018

4 Tahap Memupuk Mentimun Dalam Polibag Supaya Buahnya Lebat

6:01 AM


Memupuk Mentimun Dalam Polybag -- Ketika menulis budidaya mentimun, penulis harus berpikir ekstra dan sedikit lama. Sebab, banyak sekali penyebutan untuk kata “mentimun.” Ada yang menyebutnya mentimun, ketimun, timun, timon, dan lainnya. Finally, penulis menggunakan kata mentimun saja agar tidak ngawur untuk tanaman yang dalam bahasa ilmiah disebut Cucumis sativus L



Mentimun dapat tumbuh hampir di mana-mana, di sawah, kebun, dan bahkan di perkarangan rumah yang ditanam dalam polybag. Asalkan rajin merawatnya, produksi mentimun dalam polybag tidak kalah dengan yang ditanam di tanah langsung. Nah, bagi Anda yang menanam mentimun dalam polybag di rumah, ini postingan yang tepat agar lebih mendalami bagaimana memupuk mentimun dalam polybag supaya buahnya lebat.

Tapi, tunggu dulu! Kondisi tumbuh yang baik harus menjadi dasar untuk budidaya mentimun. Mengapa? Karena ketika kita “buta” sama sekali dengan kondisi pertumbuhan mentimun, ini menjadi masalah suatu saat. Bahkan, bisa-bisa “arang habis, besi binasa.” Cost, energi, dan waktu terkuras, mentimun tak berbuah.

Syarat tumbuh mentimun
Paling tidak atau minimal kita tau sekilas bagaimana “kemauan” mentimun dalam hidupnya. Ada beberapa kondisi/syarat tumbuh tanaman mentimun yang dapat menunjang pertumbuhan dan produktivitasnya. Mulai dari agroklimat seperti cuaca dan temperatur udara sampai dengan kesuburan lahannya.

Tanaman merambat ini atau tanaman yang termasuk famili Cucurbitaceae tidak memerlukan persyaratan spesifik untuk tumbuh dan berkembang. Ini bukan berarti mentimun dapat ditanam sembarangan tempat atau tanpa mengenal pembatasnya.

Bagaimana syaratnya? Seperti tanaman sayuran atau buah lainnya, secara umum ketinggian tempat berada pada 1-1000 m dpl dengan curah hujan yang mencukupi. Cuaca yang ektrim seperti terlalu panas atau hujan terus menerus, merupakan syarat yang kurang cocok untuk pertumbuhan mentimun.

Syarat tumbuh mentimun lainnya adalah media tanam harus gembur dan pH 5,5-7. Jika tanam masam, ya harus diberikan kapur tanah dulu seperti dolomit. Demikian dengan tekstur tanah, tanah yang baik untuk tanaman mentimun adalah tanah yang berlempung atau sedikit kadar liatnya.

Di samping syarat yang di atas, masih ada syarat media tanam mentimun yang harus dipenuhi. Media tanam/tanah harus memiliki drainase yang baik, aerasi bagus, poros, struktur tidak keras, dan tidak mudah kehilangan air karena memiliki daya simpan air yang baik.



Budidaya mentimun
Dalam budidaya mentimun bukan langsung memetik buah ðŸ˜…, namun harus melewati serangkaian tahapan budidaya tanaman. Kegiatan dalam budidaya tanaman meliputi pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemasangan lanjaran untuk rambatan, pemeliharaan, pengendalian hama penyakit dan juga panen.

Penulis yakin, bahwa secara umum kegiatan-kegiatan dalam budidaya mentimun sudah dimengerti dengan baik. Oleh karena itu, bahasan dalam posting-an ini ana buat stressing pada pemupukan mentimun. 

Pemupukan yang tepat jenis, waktu, dosis dan cara aplikasinya, merupakan kunci sukses budidaya mentimun. Pemupukan yang tepat, maka produksi dan produktivitas buah mentimun akan cukup tinggi. Sebaliknya, sedikit saja kurang tepat, maka pertumbuhan dan perkembangan tanaman mentimun juga akan mengalami down.

Pemupukan Mentimun
Untuk menunjang pertumbuhan, tanaman mentimun perlu mendapat nutrisi dalam setiap fase kehidupannya. Oleh karena itu, ada 4 tahapan penting dalam pemupukan untuk budidaya tanaman mentimun.



Baca Juga :



Tahap I, Penyiapan media tanam dalam polybag
Pemupukan mentimun dimulai pada tahap penyiapan media tanam dalam polybag. Pupuk pada tahapan ini terdiri dari pupuk organik dan juga anorganik (pupuk kimia). Kombinasi kedua pupuk ini sangat menguntungkan karena dapat menjaga kesuburan tanah seperti struktur tanah menjadi baik dan sekaligus menyediakan unsur hara makro dan mikro.

Media tanam harus sudah disiapkan jauh-jauh hari, minimal 1 minggu sebelum tanam campuran tanah, kompos dan arang sekam (2:1:1) serta pupuk yang mengandung N,P dan K sudah diisi dalam polybag.

Banyaknya pupuk NPK yang dicampur dalam media tanam adalah 10 gram per polybag (ukuran polybag 25-35). Aduk hingga merata pupuk NPK dengan campuran media tanam seperti disebutkan di atas. Agar lebih meyakinkan pH tanah tidak masam, tambahkan 1 sendok makan kaptan (dolomit).

Setelah media tanam diisi dalam polybag, jangan lupa disiram. Biarkan media tanam mentimun selama 7 hari agar media menjadi kompak dan pupuk NPK terlarut di dalamnya.

Tahap II atau Pemupukan susulan I
Sepuluh hari setelah tanam (10 HST), siap-siap untuk memberikan pupuk susulan. Dosis dan pemberian ada 3 cara. Pilih salah satu cara saja untuk aplikasi pupuk susulan tanaman mentimun. Caranya, yaitu :
  • Pengocoran ; Larutkan NPK sebanyak 10 gram dalam 1 liter air. Kocorkan pada tanaman dalam polybag sebanyak 250 ml untuk setiap tanaman. Ulangi pengocoran dalam selang waktu 3 hari (pada hari ke-15) dengan dosis yang sama.
  • Menempatkan di sekeliling tanaman ; Tempatkan pupuk NPK sebanyak 5 gram di sekeliling tanaman mentimun dengan kedalaman 2-5 cm dan jarak dari batang minimal 7,5-10 cm. Tutup kembali dengan tanah di atasnya.
  • Penugalan ; Aplikasikan pupuk NPK sebanyak 5 gram per polybag di samping tanaman. Caranya, buat lubang dengan cara ditugal media tanam dengan kedalaman 2-5 cm dan masukkan pupuk ke dalamnya. Tutup kembali lubang dengan tanah.

Tahap III atau Pemupukan susulan II
Pada tahap ini, dosis pupuk ditingkatkan lagi sesuai dengan perkembangan tanaman mentimun. Waktu pemberiannya, 20 hari setelah tanam (20 HST). Pilih salah satu cara aplikasi di bawah ini :
  • Pengocoran ; Larutkan NPK sebanyak 20 gram dalam 1 liter air. Kocorkan pada tanaman dalam polybag sebanyak 250 ml untuk setiap tanaman. Ulangi pengocoran dalam selang waktu 3 hari (pada hari ke-25) dengan dosis yang sama.
  • Menempatkan di sekeliling tanaman ; Tempatkan pupuk NPK sebanyak 10 gram di sekeliling tanaman mentimun dengan kedalaman 2-5 cm dan jarak dari batang minimal 7,5-10 cm. Tutup kembali dengan tanah di atasnya.
  • Penugalan ; Aplikasikan pupuk NPK sebanyak 10 gram per polybag di samping tanaman. Caranya, buat lubang dengan cara ditugal media tanam dengan kedalaman 2-5 cm dan masukkan pupuk ke dalamnya. Tutup kembali lubang dengan tanah.

Tahap IV atau Pemupukan susulan III (terakhir)
Pada tahap ini, dosis pupuk perlu ditingkatkan lagi sesuai dengan perkembangan tanaman mentimun. Waktu pemberiannya, 30-35 hari setelah tanam (30-35 HST). Pilih salah satu cara aplikasi di bawah ini :

  • Menempatkan di sekeliling tanaman ; Tempatkan pupuk NPK sebanyak 15 gram di sekeliling tanaman mentimun dengan kedalaman 2-5 cm dan jarak dari batang minimal 7,5-10 cm. Tutup kembali dengan tanah di atasnya.
  • Penugalan ; Aplikasikan pupuk NPK sebanyak 15 gram per polybag di samping tanaman. Caranya, buat lubang dengan cara ditugal media tanam dengan kedalaman 2-5 cm dan masukkan pupuk ke dalamnya. Tutup kembali lubang dengan tanah.



Itulah 4 tahapan pemupukan pada budidaya tanaman mentimun dalam polibag yang mesti dilakukan agar pertumbuhan dan perkembangan tanaman baik dan optimal. Bahkan, jika tepat dilakukan cara pemupukan, mentimun akan berbuah lebat, besar, panjang sesuai dengan varietas yang dipilih. Selamat menanam dan memetik mentimun hasil budidaya sendiri di dalam meda polibag.


Tips :

  1. Benih sebaiknya disemai pada tempat semaian khusus seperti tray/baki, polybag kecil, dan juga bedengan. Setelah tumbuh daun 3-4 helai baru dipindahkan dalam polybag besar.
  2. Tempatkan polybag yang telah ditanam bibit mentimun pada tempat yang terkena sinar matahari penuh agar produksinya tinggi.
  3. Untuk campuran media tanam, hati-hati jika menggunakkan pupuk kandang. Sebab, jika menggunakan kotoran ternak segar, akan membuat tanaman kuning, layu dan akhirnya mati. Oleh karena itu, pastikan pupuk kandang yang baik memiliki ciri-ciri seperti ini ; tidak berbau, remah, tidak lengket, bewarna gelap mirip tanah, tidak tampak serat hijau pakan ternak, dan ringan.
  4. Penyiraman rutin dan sesuaikan dengan kondisi cuaca.

Tuesday, October 2, 2018

Panduan Lengkap dan Mudah Menanam dan Memupuk Tanaman Pare bagi Pemula

10:35 AM


Menanam dan Memupuk Tanaman Pare -- Menanam pare sangat mudah dan enteng bagi yang sudah banyak “jam tebang” alias sudah berpengalaman. Sayangnya, bagi pemula atau yang baru terjun dalam budidaya tanaman peria/pare, mereka masih menemui banyak kesulitan. 

Banyak kendala yang dihadapi pemula dari sisi budidaya pare diantaranya seperti penyiapan benih, cara menanam, pemupukan, pemasangan lanjaran, dan beberapa hal spesifik lainnya. Oleh karena itu, panduan menanam dan memupuk tanaman pare merasa butuh sebagai pendampingnya.



Pare
Akan tetapi, sebelum beranjak membaca panduan menanam dan memupuk pare, perlu sekilas mengenal dengan tanaman pare. Tanaman yang dalam bahasa ilmiah disebut dengan Momordica charantia L ini, ternyata memiliki banyak sebuatan nama di berbagai provinsi di Indonesia. 

Seperti dikutip dalam wikpedia.org, ” “Peria memiliki banyak nama lokal, di daerah Jawa disebut sebagai paria, pare, pare pahit, pepareh. Di Sumatera, peria dikenal dengan nama prieu, fori, pepare, kambeh, paria. Orang NusaTenggara menyebutnya paya, truwuk, paitap, paliak, pariak, pania, dan pepule, sedangkan di Sulawesi, orang menyebutnya dengan poya, pudu, pentu, paria belenggede, serta palia.”

Dan mungkin banyak sebutan lainnya terhadap tanaman yang buahnya pahit ini atau famili dari cucurbitaceae di provinsi-provinsi lain. Yah, yang jelas, seperti itulah terdapat aneka penyebutan untuk tanaman pare. 

Semua itu merupakan kekayaan budaya/bahasa di negeri kita yang patut dihargai. Tetapi, dalam postingan ini, untuk selanjutnya kita sebut saja dengan buah pare atau tanaman pare agar tidak menjadi pusing dalam memahaminya.

Pare merupakan tanaman yang buahnya banyak diminati masyarakat terutama untuk dijadikan sebagai sayuran. Meski rasanya pahit, jika pintar mengolahnya, buah pare menjadi sayuran spesial yang bikin ketagihan.

Buah yang berkerut dan berbintil-bintil ini memiliki sejumlah kandungan nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral dan juga vitamin di dalamnya. Makanya, tidak mengherankan, jika buah pare sangat bermanfaat untuk dikonsumsi. 

Bahkan, buah pare yang berwarna hijau dan terasa pahit ini sangat mujarab untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan sepertti diabetes, tekanan darah dan lain-lain.
Varietas/jenis
Untuk sekadar diketahui bahwa terdapat beberapa bentuk dari buah pare, diantaranya ada yang berbentuk panjang dengan warna hijau muda sampai agak keputihan dan ada juga yang bentuknya besar, tetapi pendek. Buah pare yang bentuknya pendek ini sering dikenal dengan pare katak atau kodok atau pare ayam yang buahnya betul-betul hijau.
Ada berbagai varietas/jenis dari pare, mulai dari varietas lokal sampai varietas yang diimpor dari luar negeri. Masyarakat paling menyukai varietas pare gajih atau sering disebut dengan pare mentega atau pare putih. Mengapa? Karena pare yang berasal dari india ini ukuran buahnya besar dan panjang. Panjangnya bisa mencapai ½ meter, namun rata-rata +/- 30 cm. Sedangkan beratnya, ada yang 2 buah/kg dan ada juga yang 5 buah/kg. Ukurannya sangat bervariasi, tergantung teknik budidayanya.
Pembibitan
Sekadar catatan, dalam 1 hektar butuh benih pare sebanyak +/- 15.000 benih. Kebutuhan benih juga sangat tergantung pada jarak tanam dan jumlah benih per lubang.

Dalam menanam pare sebenarnya tidak perlu harus pembibitan melalui penyemaian. Sebab, benih pare dapat ditanam langsung pada bedengan lahan yang sudah dipersiapkan. Tapi, penanaman langsung dari benih bisa dilakukan jika kondisi tanam jatuh pada musim hujan.

Akan tetapi, jika musim kemarau atau pertimbangan lainnya seperti dimakan semut benihnya, maka bibit pare harus melalui proses penyemaian dulu. Caranya cukup mudah, begini :
  • Siapkan dulu polibag kecil atau bisa juga gelas air mineral bekas. Atau wadah semainya dapat dibeli berupa tray dengan ukuran 5 cm.
  • Isi media semai/polibag dengan campuran tanah dan pupuk kandang. Perbandingan tanah dan pupuk kandang 2:1 (2 bagian tanah + 1 bagian pupuk kandang). Sebaiknya, gunakan pupuk kompos kalau ada.
  • Ambil benih pare sesuai jumlah yang dibutuhkan, rendam dalam air hangat kira-kira 3-6 jam.
  • Pisahkan benih yang tenggelam dengan yang mengambang/terapung. Ambil yang tenggelam saja karena bernas untuk tumbuh.
  • Masukkan benih ke dalam media semai sedalam 1 cm tepat di tengah-tengah polibag. Tutup dengan tanah halus di atasnya. Jangan lupa disiram.
  • Tempatkan semaian benih itu pada tempat yang ada naungannya.
  • Benih pare berkecambah dalam waktu 4-7 hari. Jika bibit pare sudah tumbuh dan memiliki daun sebanyak 4-5 helai, bibit pare siap dipindahkan ke lahan tanam.

Pengolahan tanah
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman pare adalah tanah yang gembur dan berdrainase baik. Untuk itu, tanah perlu diolah/dicangkul terlebih dahulu dengan kedalaman 20-30 cm. Kemudian dibentuk bedengan-bedengan dengan lebar 1,5 m dan jarak antar bedengan 60-75 cm. Ketinggian bedengan sekitar 30 cm.

Bersamaan dengan penyiapan lahan tanam, ditabur juga dengan pupuk kandang. Pupuk kandang dicampur dengan tanah dan diratakan. Kebutuhan pupuk kandang 10-20 ton/hektar. Jumlah tersebut sangat tergantung kesuburan tanah. Semakin keras struktur tanah, kebutuhan pupuk kandang semakin banyak.

Aplikasi pupuk kandang bisa juga dengan cara menempatkan langsung pada lubang tanam. Pupuk kandang diberikan sebanyak 1-2 kg/lubang tanam. Pupuk organik tersebut (pupuk kandang) harus sudah diberikan 2 minggu sebelum tanam.

Untuk menunjang produktivitas tanah, perlu juga diberikan pupuk anorganik. Pupuk organik bisa pupuk majemuk dan bisa juga pupuk tunggal. Biasanya biar lebih praktis menggunakan NPK sebanyak 15 gram per lubang tanam (diaduk dengan tanah). Pupuk NPK sudah diberikan 1 minggu sebelum tanam.

Penanaman
Seperti ana infokan di atas tadi, penanaman bisa langsung menempatkan benih ke dalam lubang tanam sebanyak 1-2 benih per lubang. Namun, jika bibit hasil semaian, penanaman dengan cara mengeluarkan bibit secara hati-hati dari wadah semai, lalu ditempatkan dalam lubang tanam. Tutup dengan tanah hingga menutupi pangkal bibit. Siram dengan air secukupnya.

Penanaman pare harus diatur jarak tanamnya. Jarak tanam disesuaikan dengan lebar bedengan yang dibuat. Memang jarak tanam akan berpengaruh pada tinggi rendahnya produksi buah pare nantinya. Sesuai dengan lebar bedengan yaitu 1,5 m, maka jarak tanam dibuat 1 m x 1 m (dalam barisan x antar barisan).

Pemasangan lanjaran dan para-para

Karena tanaman pare tumbuhnya merambat, maka pada umur bibit pare sudah 15 hari (15 HST) perlu adanya lanjaran tempat ia merambat. Rambatannya bisa mencapai sampai 4 meter. Namun, tinggi lanjaran cukup +/- 2 meter saja. Di atasnya dibuat para-para tempat merambat cabang-cabangnya dan bergantung buah pare.

Panduan Lengkap dan Mudah Menanam dan Memupuk Tanaman Pare bagi Pemula
Ilustrasi Lanjaran dan para-para tanaman pare. Gambar : Dokpri

Lanjaran tanaman pare bisa menggunakan bambu, kayu atau bisa juga memakai besi. Pilihannya, mana yang terjangkau secara ekonomi dan mudah untuk didapatkannya. Tancapkan lanjaran secara kuat setiap 3-4 meter/lanjaran. Kemudian pasang juga lanjaran pada setiap tanaman pare sebagai “tangga” naik/merambat. Untuk ini, bisa digunakan tali nilon saja. Tali nilon dibuat simpul-simpulnya agar pegangan sulur-sulurnya tidak jatuh.

Pemupukan susulan
Mulai umur 3 minggu setelah tanam, tanaman pare sudah perlu dipupuk lagi. Untuk pupuk susulan ini, berikan NPK sebanyak 5 gram per tanaman. Cara aplikasinya, tempatkan pupuk NPK dengan cara ditugal di sebelah tanaman. Jaraknya 5-10 cm dari batangnya. Atau bisa juga dibenamkan pupuk secara melingkar di sekeliling tanaman.

Kedalaman pemupukan 5 – 10 cm. Setelah diberikan pupuk, jangan lupa ditutup kembali dengan tanah. Hati-hati, jangan sampai terkena pupuk pada batang atau daun tanaman. Pupuk susulan ditambahkan setiap 2 minggu sekali dengan dosis yang sama sampai tanaman pare berumur +/- 4 bulan.

Penyiraman
Jangan biarkan tanaman pare Anda “kehausan.” Pare sangat tidak tahan dengan kekurangan air. Oleh karena itu, lakukan penyiraman setiap hari atau sesuaikan dengan kondisi cuaca. Jika musim hujan, Anda dapat beristirahat sebentar karena hujan membantu kelembaban atau ketersediaan air media tumbuh pare.

Penyiangan, Pembumbunan dan Penyulaman
Penyiangan harus dilakukan jika ingin pertumbuhan dan produksi buah pare tinggi. Bersihkan dari rumput atau gulma yang mengganggu tanaman pare. Namun, jika menggunakan mulsa penutup media tanam, tugas penyiangan tidak diperlukan karena memang tidak ada tumbuhan pengganggu yang tumbuh.


Baca juga ini :

Bersamaan dengan kegiatan penyiangan, dilakukan juga pembumbunan. Cara melakukan pembumbunan adalah dengan cara menaikkan/menimbun tanah di sekitar pangkal tanaman pare. 

Dengan pembumbunan, maka akar-akar tanaman pare tidak mudah kering karena sudah tertimbun dengan tanah dan juga memperlancar aerasi karena tanah gembur di sekitarnya. Bahkan, pembumbunan dapat memperbanyak tumbuhnya akar tanaman pare sehingga penyerapan hara lebih optimal.

Jika ada bibit tanaman pare yang mati, lubang kosong, atau berpenyakit, maka segera lakukan penyulaman dengan bibit pare yang masih ada dipersemaian atau polibag. 

Pemangkasan
Cabang-cabang yang tidak produktif perlu dipangkas. Biasanya, pemangkasan sudah perlu dilakukan memasuki umur tanaman 1 bulanan. Pemangkasan ini bertujuan agar suplai nutrisi tidak menjadi sia-sia. 

Dengan pemangkasan, sinar matahari dapat menyebar rata ke seluruh bagian tanaman pare. Dengan bagusnya cahaya yang diterima, proses fotosintesis pun berjalan lancar.

Pengendalian hama dan penyakit
Serangga yang paling mengganggu pada tanaman pare adalah lalat buah. Makanya, sejak buah pare masih kecil sudah harus dibungkus dengan kertas atau daun pisang yang kering.

Di samping lalat, ada ulat dan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) lainnya. Karena itu, untuk pengendalian hama dan penyakit, usahakan lahan selalu bersih dari rumput-rumpu ataupun semak belukar lainnya yang menjadi sarang persembunyian awal hama. 

Di samping itu, kalaupun ingin mengendalikan hama, gunakan pestisida organik agar aman dari sisi kesehatan Anda, yang mengosumsi buah pare, dan aman pula lingungan dari pencemaran r-4-cun kimia.

Panen dan pascapanen
Setelah sekian lama Anda merawat tanaman pare, kira-kira pada umur 2-3 bulan sejak mulai pembungaan sudah dapat dipanen. 

Ciri-ciri buah pare sudah dapat dipanen adalah sudah besar dan panjangnya mencapai 20-30 cm, mengilap, segar, serta keriput-keriputnya masih rapat. Ciri-ciri ini biasanya untuk buah pare yang peruntukannya untuk konsumsi.

Pascapanen, buah pare perlu sortasi terlebih dahulu dengan cara memilah dan memilih mana yang bagus dan mana yang busuk atau cacat. Setelah itu, segera dipasarkan. Perlu diingat, buah pare tidak tahan disimpan terlalu lama. 

Demikian panduan menanam dan memupuk tanaman pare. Artikel yang singkat ini semoga berguna untuk Anda yang membutuhkan pengetahuan budidaya tanaman pare dengan benar. Salam sukses, ya

Monday, October 1, 2018

Mengapa Sabut Kelapa Cocok Untuk Media Tanam Aglaonema?

8:05 AM


Sabut Kelapa Untuk Media Tanam Aglaonema -- Media tanam untuk aglaonema berpengaruh terhadap indah tidaknya tampilan daun dan perkembangannya. Jika media tanam tidak cocok, tanaman berdaun lebar ini tumbuh enggan, matipun tak mau alias kurang menarik untuk dipandang. 

Makanya, jika tertarik atau suka menanam tanaman hias aglaonema, media tanam sangat perlu diperhatikan. Salah satu campuran media tanam agalonema adalah sabut kelapa. Mengapa sabut kelapa?
Mengapa Sabut Kelapa Cocok Untuk Media Tanam Aglaonema?


Sabut Kelapa
Untuk mendapatkan sabut kelapa tidak harus menjual emas atau hewan ternak terlebih dahulu 😅. Sebab, sabut kelapa sungguh amat banyak terdapat di sekeliling tempat tinggal kita karena dibuang-buang setelah diambil isinya. Kalaupun tidak dibuang, sabut kelapa hanya dijadikan bahan bakar secara tradisional oleh masyarakat.

Sabut kelapa jangan dianggap sepele. Para pembudidaya tanaman hias seperti anggrek sudah sejak dulu kala memanfaatkan sebagai media tanam dan terbukti sangat bagus. Meskipun harus diakui, mereka belum melihat nutrisi apa yang ada dalam sabut kelapa pada waktu itu. Namun, para peneliti sudah menemukan “mutiara” tersimpan di dalam sabut kelapa.

Mengapa Sabut Kelapa Cocok Untuk Media Tanam Aglaonema?
Dokpri

Seperti dikutip dari "Jurnal Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri" yang ditulis oleh Trivana,L. Dkk (2017), “..Satu butir kelapa menghasilkan 0,4 kg sabut yang mengandung 30% serat  yang kaya unsur. Sifat kimia sabut kelapa, yaitu pH rata-­rata agak masam (6,33), nilai rasio C/N sangat  tinggi (98,42). Nilai KTK sangat tinggi (84.28   me/100 g-1) dan unsur-­unsur hara makro (78% K, 23% N, 5% Ca, dan 4% P).”

Nah, ternyata unsur haranya banyak “bersembunyi” dalam serat sabut kelapa. Nilai KTK yang tinggi mampu memegang erat unsur hara dalam media tanam dan tidak mudah tercuci. 

Unsur-unsur hara yang dikandungnya memang dibutuhkan oleh tanaman untuk menunjang pertumbuhannya. Ini belum lagi dicampur dengan beberapa campuran bahan media tanam lainnya yang juga mengandung sejumlah hara. Hanya bahan sabut kelapa saja, sudah terlihat perannya untuk membantu tumbuh aglaonema

Di samping itu, masih menurut para pakar bahwa sabut kelapa mengandung jamur trichoderma spp yang sering juga disebut dengan mikroorganisme lokal (MOL). Jamur ini berperan sebagai agen antagonis atau biofungisida terhadap jamur parasit. 

Oleh karena itu, dengan adanya sabut kelapa, tanaman hias aglaonema tidak mudah terserang penyakit terutama penyakit busuk akar atau layu fusarium.
Sabut kelapa dalam perkembangannya sudah diolah menjadi serbuk kelapa yang ukurannya seragam. Hasil olahan itu yang kemudian dikenal dengan cocopeat. Namun, apapun itu, ya tetap sabut kelapa.

Sabut kelapa yang mampu menyimpan air relatif lama. Bagian terluar kelapa yang berserat itu mampu menjaga kelembaban media tanam sehingga tanaman hias aglaonema tidak mudah stres. Dengan adanya kadar air dalam media tanam, distribusi nutrisi dari akar ke seluruh jaringan tanaman akan tetap berlangsung lancar.

Mengapa Sabut Kelapa Cocok Untuk Media Tanam Aglaonema?
Dokpri

Karena persyaratan media tanam yang baik harus memiliki drainase, berpori, dan memiliki rongga udara (aerasi), maka sifat-sifat itu mampu dibentuk oleh kehadiran sabut kelapa dalam media tanam.

Akan tetapi, dalam penggunaanya, sabut kelapa harus bersih dan steril. Sebelum digunakan, sabut kelapa dicuci dulu beberapa kali. Di samping itu, sebaiknya sabut kelapa dipukul/ditumbuk dengan kayu atau palu atau alat tumbuk lainnya agar serat-seratnya lebih halus.

Media Tanam Aglaonema
Media tanam aglaonema hampir-hampir menyerupai tempat habitat aslinya. Tempat akar berjangkar penuh dengan humus, serat-serat kayu seperti pakis, bahan-bahan organik, dan porositasnya sangat baik.

Alangkkah cerdasnya ketika kita mampu membuat tempat “tinggalnya” yaitu media tumbuhnya yang identik dengan habitatnya itu. Oleh karena itu, membuat media tanam aglaonema harus tersusun dari bahan-bahan yang cocok. Tidak ada formula yang tunggal dalam campuran media tanam tanaman hias dengan daun warna-warni bermotif batik itu.

Untuk membuat media tanam aglaonema harus dipersiapkan terlebih dahulu bahan-bahannya. Bahannya terdiri dari berbagai variasi. Variasi-variasi tentu saja mengikutsertakan sabut kelapa ke dalamnya sebagai salah satu komposisi penting. 

Tapi, pada saat mengisi ke pot, bagian dasar pot harus diisi terlebih dahulu dengan pecahan batu bata atau arang atau bisa juga potongan styreofoam agar tidak mampet. Berikut ini beberapa opsi media tanam yang dapat dicoba, yaitu :
  • Tanah, pupuk kandang yang matang, sekam bakar dan sabut kelapa. Perbandingannya 1:1:1:1
  • Pakis, kompos, sekam bakar, pasir, dan sabut kelapa. Perbandingannya 1:1:1:1:1
  • Tanah, pakis, sabut kelapa, kompos dan sekam padi. Perbandingannya 1:1:1:1
  • Tanah, kompos, sabut kelapa, arang sekam. Perbandingannya  2:1:2:1

Itulah the story mengapa sabut kelapa cocok dan selalu menyertai komposisi media tumbuh tanaman hias aglaonema. Sabut kelapa mengandung sejumlah hara, jamur antagonis, kemampuan menyimpan air dan membuat media tanam lebih poros.

5 Jenis Pupuk ini Membuat Anyelir Tumbuh Optimal dan Berbunga Besar-Besar

1:32 AM


Pupuk Anyelir -- Alangkah mengecewakan ketika hasil budidaya bunga anyelir tak kunjung tumbuh dan berbunga banyak ataupun bunganya kecil-kecil. Ini terjadi karena salah satunya adalah kurang tepatnya memberikan asupan nutrisi berupa jenis pupuk yang tepat. Padahal, rahasia anyelir agar tumbuh optimal dan rajin berbunga ada pada 5 jenis pupuk ini. Pupuk apa saja? Simak dalam ulasan berikut ini.

5 Jenis Pupuk ini Membuat Anyelir Tumbuh Optimal  dan Berbunga Besar

Bunga anyelir yang dalam bahasa Inggris disebut carnation sangat indah. Warna-warni bunga dan kecerahannya yang muncul di setiap tangkainya begitu mempesona. Tidak salah jika banyak orang menyukai dan bahkan membudidayakannya di perkarangan rumah. 

Dengan berbekal pengetahuan tentang pemupukan, baik ditanam di tanah maupun dalam pot, bunga hiasan ini (anyelir) tumbuh sehat dan bungapun menghiasi “relung hati” si empunya dan menambah elok tampilan rumahnya.

Kondisi Tumbuh Anyelir
Tidak begitu sulit membudidayakan anyelir asalkan syarat atau kondisi tumbuhnya terpenuhi. Di daerah dengan ketinggian 800-1500 meter dpl tak perlu diragukan pertumbuhannya karena memang sudah tempatnya. 

Demikian juga dengan temperatur udara yang sejuk, membuat anyelir sangat menyukainya. Apalagi, tanah yang gembur dan berdrainase baik, anyelir akan berkembang dengan cepat dan pproduktivitas bunganya tinggi sekali.

Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) seperti halnya tanaman yang lain, ia tidak menyukai pada kondisi media tumbuh yang masam. Nilai pH yang cocok untuk pertumbuhannya berkisar 6-7. Media tumbuh yang mendukung pertumbuhannya tentu tanah yang poros, misalnya lempung berpasir atau lembung liat berpasir. 

Makanya pembudidaya anyelir dalam pot sengaja mengondisikan media tanam dengan campuran tanah, pasir, kompos, arang sekam dan juga humus agar dapat tumbuh dengan baik.

Pembibitan

Tanaman anyelir yang berasal dari kawasan mediterania ini sangat baik dan cepat tumbuh jika diperbanyak bibitnya dengan cara stek. Dengan kata lain, untuk menanam anyelir diambil bibit hasil stek. Dengan pembibitan stek akan terjamin kualitasnya karena sudah diambil dari indukan selektif, sehat dan produktivitasnya tinggi. 

Kalau belum punya tanaman anyelir di rumah, lebih simpel adalah dengan cara membeli bibit stek pada penyedia. Jika sudah ada tanaman anyelir dewasa di rumah, tinggal perbanyak sendiri melalui stek ketika butuh bibitnya.

5 Jenis Pupuk ini Membuat Anyelir Tumbuh Optimal  dan Berbunga Besar


Pengolahan tanah
Karena anyelir merupakan komoditas bisnis karena bunganya dapat dijadikan perhiasan pada berbagai event/momen, maka budidaya pun sering dilakukan dalam skala lahan luas 

Nah, karena menanam di lahan yang relatif luas, maka diperlukan pengolahan tanah dengan kedalaman 30-40 cm. Pengolahan dengan cara dibajak, cangkul atau menggunakan mesin cultivator

Bedengan dibuat dengan lebar 1 meter dan jarak antar bedengan untuk mudah memonitor dan pemeliharaan. Setiap meter persegi memuat 30-40 bibit anyelir.

Pemupukan pada saat olah tanah
Agar tersedia makanan spesial ketika bibit anyelir menempati “rumah baru”, maka lahan tanam harus sudah “terhidangkan” dengan sejumlah nutrisi. Maksudnya begini, tanah harus diberikan kaptan/dolomit kalau nilai pH tanah di bawah 5,5 atau masam. Tambahkan dolomit 1-2 ton/hektar atau 1-2 kg m-2

Selain itu, pupuk kandang atau kompos dengan banyaknya sesuai dengan kondisi tanah. Umumnya diberikan sebanyak 10-20 ton pupuk kandang per hektar (tergantung kesuburan tanah). Namun, sekali lagi, banyaknya pemberian pupuk organik itu disesuaikan dengan tekstur dan struktur tanah.


Pada bedengan-bedengan yang dibuat ditaburkan pupuk anorganik sebanyak 85 Kg SP-36/hektar atau 8,5 gram/m2,  150 Kg K2SO4/hektar atau 15 gram/m2, 100-120 Kg KCl/hektar atau 10-12 gram/m2, dan 50 Kg MgSO4/hektar atau 0,5 gram/m2. Aduk dengan tanah dan ratakan.

5 Jenis Pupuk ini Membuat Anyelir Tumbuh Optimal  dan Berbunga Besar



Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan merupakan tahapan yang sangat menentukan. Apakah ingin memetik daun atau bunga tergantung jenis pupuk yang diaplikasikan. Nah, biar hati Anda “berbunga-bunga”, ehh maksudnya anyelir tumbuh optimal dan rajin berbunga, anyelir butuh 5 jenis pupuk spesial. Ini dia 5 jenis pupuk susulan untuk bunga anyelir, yaitu :
  1. NPK sebanyak 250 Kg hektar-1 atau 25 gram m-2                              
  2. KCL sebanyak 250 Kg hektar-1 atau 25 gram m-2              
  3. Urea sebanyak  100 Kg hektar-1 atau 10 gram m-2
  4. MgSO4 sebanyak 50 Kg hektar-1 atau 5 gram m-2
  5. Ca(NO3)2 sebanyak 60  Kg hektar-1 atau 6 gram m-2

Lima jenis pupuk ini diberikan secara bertahap, yaitu setiap 2 minggu sekali. Lebih baik diberikan dengan dosis rendah sehingga pemanfaatan optimal dan efisiensi pupuk lebih tinggi. Misalnya, NPK 25 gram/m2 dapat diberikan dalam beberapa kali dengan dosis 5 gram/m2, demikian juga dengan pupuk lainnya.

Oh, ya, pemberian pupuk dengan cara pengocoran. Semua jenis pupuk dilarutkan dalam air sebanyak beberapa gram (berat masing-masing pupuk diberikan beberapa kali). Siramkan ke media tanam yang sudah tumbuh bbitnya. Pemberian puuk pertama kali pada umur bibit 2 minggu setelah tanam.Kalau jatuh musim hujan, tingkatkan sedikit dosis pupuk.

Pengendalian hama penyakit jika ada serangan saja. Aplikasikan pestisida yang aman untuk kesehatan dan aman juga terhadap lingkungan. Panen biasanya sudah dapat dilakukan pada usia tanaman 4-5 bulan. Dengan pemeliharan yang baik dan tepat, maka produksi dan produktivitas bunga anyelir menjadi tinggi.